HUTAN DALAM LINGKARAN HERMENEUTIKA

Hutan di lereng Gunungapi Merapi merupakan ekosistem yang unik dan khas. Selain sebagai penyangga gunungapi yang masih aktif, hutan tersebut juga memainkan peran hidrologis sebagai daerah tangkapan air, habitat berbagai flora dan fauna yang dilindungi, kantong keanekaragaman jenis plasma nutfah yang potensial, serta fungsi sosial dan religius. Gunungapi Merapi yang sewaktu-waktu dapat erupsi membuat hutan serta masyarakat yang bermukim di lereng Gunungapi tersebut memiliki kerawanan yang cukup tinggi. Masyarakat sekitar kawasan memiliki ketergantungan terhadap hutan: seperti aktivitas merumput, mencari kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangga, dan pembuatan arang.

Masyarakat lereng Gunungapi Merapi memiliki sistem kepercayaan yang telah turun-temurun tentang sikap yang harus dijaga saat masuk hutan. Masyarakat dilarang berbicara yang tidak pantas, mengumpat, buang air besar atau kecil sembarangan, dan pantang untuk menebang pohon di dalam hutan. Jika lingkungan alam mengalami kerusakan maka ia akan menderita, oleh karena itu kesadaran akan menjaga hutan dan lingkungan alam yang merupakan sumber kehidupan akan senantiasa selalu dijaga secara hati-hati. Hubungan antara masyarakat lereng Gunungapi Merapi dengan alam bukanlah bersifat eksploitatif agar mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya, melainkan bersifat saling menjaga agar tercipta keselarasan. Hubungan ini memiliki makna hermenetis yang diekspresikan oleh masyarakat melalui Upacara Labuhan.

 

Hubungan saling menjaga antara masyarakat sekitar lereng dengan Gunungapi Merapi dimaknai berbeda oleh Mbah Maridjan. Mbah Maridjan memandang Merapi sebagai makhluk hidup yang bernafas, berpikir, dan berperasaan, sehingga dalam bergaul dan memberi perlakuan juga sama seperti bergaul pada makhluk hidup lainnya. Mbah Maridjan melarang orang-orang berbicara kotor dengan mengucapkan kata mbleḍos, weḍus gèmbèl, njeblug pada gunung. Ritual dan tata upacara yang ia lakukan adalah bentuk penghormatan pada makhluk yang dijaganya. Agar sang gunung senantiasa bersabar dan tidak memasukkan dalam hati untuk perilaku orang-orang kota yang terkesan mengecilkan artinya. Pemahaman Mbah Maridjan tentang Gunungapi Merapi merupakan pemahaman terhadap makna entitas Gunungapi Merapi. Mbah Maridjan merinci istilah-istilah yang umum digunakan masyarakat mengenai aktivitas Gunungapi Merapi, yaitu mbleḍos, weḍus gèmbèl, njeblug dapat membuat gunung terluka perasaannya. Menurut Mbah Maridjan:

(Bahasa Jawa): kanggo wong pinter mbok menawi kedah ngaten niku, nanging kanggo kulo wong bodho kados kulo niki nggih mboten mekaten.

(Bahasa Indonesia): untuk orang-orang pintar mungkin sudah biasa begitu menyebut istilah-istilah aktivitas Merapi, tapi bagi saya yang orang bodoh tidak demikian.

Istilah-istilah itu memang umum digunakan, tetapi bagi Mbah Maridjan tetaplah “kurang umum” alias tidak sopan.

Mbah Maridjan merupakan sosok manusia ekologis dalam etika lingkungan. Etika lingkungan memberikan pemahaman fundamental dalam berelasi dengan alam, yaitu relasi antara masyarakat tradisonal (pendukung sebuah tradisi), alam dan relasi di antara keduanya dalam perspektif religius dan spiritual. Makna berelasi dengan alam secara lebih mendalam dapat ditafsirkan menggunakan Hermeneutika, yaitu teori sekaligus metode untuk menyingkap, dan menampilkan makna di balik simbol-simbol yang menjadi objeknya.  Alam (makrokosmos) dipahami sebagai kudus, spiritualitas merupakan kesadaran yang paling tinggi, sekaligus menjiwai dan mewarnai seluruh relasi dari semua ciptaan Tuhan di alam semesta, termasuk relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Gaib atau yang Kudus. Melalui perspektif ini, masyarakat akan selalu ingin mencari dan membangun harmoni di antara manusia, alam, masyarakat, dan dunia gaib dengan didasarkan pada pemahaman dan keyakinan bahwa spiritual menyatu dengan yang material.

Masyarakat di lereng Gunungapi Merapi memandang dirinya sebagai bagian integral dari komunitas ekologis, komunitas alam. Masyarakat tidak pernah berusaha menjalani hidup yang hanya mementingkan hubungan antarsesama tetapi relasi dengan alam sekitarnya: dengan hutan, dengan sungai, dengan gunung, dengan binatang-binatang dan dengan tumbuh-tumbuhan di alam. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa cara berpikir, cara pandang, sistem pengetahuan dan seluruh ekspresi serta penghayatan budaya masyarakat lereng Gunungapi Merapi sangat diwarnai dan dipengaruhi oleh relasi dengan alam sebagai bagian dari hidup dan eksistensi dirinya.

Upacara Labuhan masih dipertahankan eksistensinya oleh masyarakat, bahkan seiring berjalannya waktu tradisi ini juga dikemas dengan serangkaian pentas budaya lainnya, seperti ketoprak, jathilan/ kuda lumping dan wayang kulit. Namun demikian, terdapat keterputusan nilai atau makna yang dimiliki oleh Mbah Maridjan dengan sebagian masyarakat terutamanya pada generasi muda. Pemaknaan Gunungapi Merapi sebagai entitas hanya berhenti pada Mbah Maridjan dan para tetua (seumuran dengan Mbah Maridjan) saja, generasi muda yang kecenderungan dapat mempunyai kepekaan batiniah seperti Mbah Maridjan, memilih untuk memandang Gunungapi Merapi sebagai mitos saja. Generasi muda saat ini memberikan gambaran pada waktu yang akan datang, dimungkinkan pemaknaan dan pemahaman akan nilai dari tradisi akan terdegradasi, religiusitas masyarakat bergeser ke arah pragmatis.

Melalui relasi sakral yang diekspresikan oleh masyarakat melalui tradisi dan upacara Labuhan ini, hutan terpelihara. Relasi merupakan hubungan saling antara kedua belah pihak, dua-duanya dihargai dan dihormati, etika lingkungan menjelaskan menggunakan istilah hak asasi alam. Bahwa alam berhak untuk tidak dirusak dan dicemari. Alam memiliki hak untuk tidak dihambat pertumbuhan dan perkembangannya. Namun ini tidak berarti hak alam bersifat absolut. Konservasi memberikan jalan melakukan negosiasi dengan alam, konservasi kaitannya dengan pemanfaatan berarti wise use atau digunakan secara bijaksana.

Kesakralan relasi membentuk religiusitas masyarakat dalam memandang gunung dan hutan. Gunung dan hutan adalah sebagai objek yang memiliki ruh, yang memiliki entitas, bukan sebagai benda mati yang dijaga hanya agar memperoleh manfaat (kayu, pakan, air, dan kesuburan tanah) atau juga hanya terhadap roh/ tokoh penunggu Gunungapi Merapi. Makna gunung dan hutan bagi masyarakat lereng Gunungapi Merapi adalah sebuah harapan dan rumah, karena pascaerupsi masyarakat akan tetap pulang ke lereng Gunungapi Merapi. Masyarakat yakin hutan yang memberi kehidupan, meskipun telah rusak terkena awan panas, akan kembali tumbuh melalui suksesi sehingga masyarakat tetap dapat melanjutkan hidupnya, bukan hanya sebagai tempat dengan pohon-pohon rindang dan binatang-binatang di dalamnya.

 

 

Penulis : Marlianasari Putri

Editor : Denni Susanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.